Selasa, 26 Februari 2008

Menulis Blog Dari Ponsel

"Kini kebebasan Anda untuk menulis pendapat didunia maya, kini akan semakin mudah saja.
Karena sekarang untuk menulis blog, Anda tak perlu lagi menggunakan Komputer, cukup dengan
ponsel, maka semua jadi beres."

Syaratnya Adalah :
1. GPRS ponsel anda sudah aktif.
2. Ponsel anda mendukung java MIDP 2.0.
3. Free memory minimal 100 kb.
4. Anda memiliki akun blog.

Blog Planet dapat didownload gratis di http://www.blogplanet.net/ atau jika mau download dari
ponsel di http://www.blogplanet.net/files/BlogPlanetPre.jad

Menu utama diBlog Planet :
1. New Post.
Untuk membuat tulisan/posting baru.
2. Saved Post.
Untuk melihat tulisan/posting yang berhasil dikirim. Untuk mengedit dan menghapus posting juga.
3. Camera.
Untuk mengambil gambar dengan ponsel kamera.
4. Picture Gallery.
Untuk melihat gambar yang sudah diambil.
5. User Dictionary.
Bukan kamus bahasa inggris loh! Ini untuk mempercepat penulisan yang akan diposting.
6. Settings.
Ini menu yang paling penting yang menghubungkan Blog Planet dengan situs blog yang akan diakses.

Berikut ini adalah settingan untuk beberapa situs Blog :
1. Server : Blogger
Host name : www.blogger.com
Port : 80
End Point : /api/RPC2
Support image: No
MT Server : No
2. Server : WordPress
Host name : Alamat situs
Port : 80
End Point : /wordpress/xmlrpc.php
Support image: Yes
MT Server : Yes
3. Server : TypePad
Host name : www.typepad.com
Port : 80
End Point : /t/api
Support image: Yes
MT Server : Yes
4. Server : Twoday
Host name : twoday.net
Port : 8081
Support image: Yes
MT Server : Yes
5. Server : MovableType
Host name : Alamat situs
Port : 80
End Point : /cgi-bin/xmlrpc.cgi
Support image: Yes
MT Server : Yes
6. Server : Roller
Host name : Alamat situs
Port : 8080
End Point : /roller/xmlrpc
Support image: No
MT Server : Yes

<--------------------"Selamat mencoba"------------------------->

Setting GPRS Untuk Semua Ponsel

Setting GPRS Untuk Semua Ponsel:
1. Setting ini untuk hp yang mendukung selain WAP juga HTTP(WAP saja tidak cukup).
2. Kunci pengubahan setting GPRS ini adalah menghilangkan pemakaian proxy dan IP address.

Inilah Parameter Settingnya :
1. Telkomsel----------->
Connection name : TSEL
APN : Telkomsel
User Name : wap
Password : wap123
Pakai Proxy : No
IP address : -
Data Bearer : GPRS
Prompt Password : No
2. XL------------------>
Connection name : XLGPRS
APN : www.xlgprs.net
User Name : Xlgprs
Password : Proxl
Pakai Proxy : No
IP address : -
Data Bearer : GPRS
Prompt Password : No
3. Matrix-------------->
Connection name : SatGPRS
APN : Satelindogsm.com
User Name : -
Password : -
Pakai Proxy : No
IP address : -
Data Bearer : GPRS
Prompt Password : No
4. Im3----------------->
Connection name : M3GPRS
APN : www.indosat-m3.net
User Name : gprs
Password : im3
Pakai Proxy : No
IP address : -
Data Bearer : GPRS
Prompt Password : No
5. Mentari------------->
Connection name : INDOSATGPRS
APN : indosatgprs
User Name : indosat
Password : indosat
Pakai Proxy : No
IP address : -
Data Bearer : GPRS
Prompt Password : No

""SELAMAT MENCOBA""-------------->>

Rabu, 20 Februari 2008

Sekilas info

Gabung yuk..!!
Kami mengundang anda untuk ikut gabung dalam Komunitas ini... asalkan anda berasal dari Sumatera.. untuk sama-sama ikut berpartisipasi sebagai kontributor. Lihat syarat dan aturan di bagian paling bawah dari posting.

Minggu, 2008 Februari 10
Kami Juara Lagi.... !


Sekali lagi kami juara lagi dan lagi-lagi juara setelah sebelumnya kami memenangkan Copa 234 melawan Persipura, pantas dan pantas Sriwijaya FC menjadi juara, selamat kepada teman-teman laskar wongkito dan para pendukungnya dimana seja berada.

Diposting oleh Nayel di 16:28 0 komentar
Label: Sumatera Selatan, Sumatera Utara
Jumat, 2008 Februari 08



PERSIJA sudah bertekuk lutut di kaki Sriwijaya FC, trus selanjutnya PSMS Medan akan disikat lagi, sayangnya pertandingan Final belum jelas akan dilaksanakan dimana, katanya bakal dilaksanakan di Bandung (trus ngapain di Bandung segala) mending di Palembang sekalian, disini ngak bakal ribut. Kalau bapak mentri ngak sanggup ngadain di Jakarta tutup aja stadion-stadion di Jakarta.

Diposting oleh Nayel di 22:30 0 komentar
Label: Sumatera Selatan
Senin, 2008 Februari 04
Bengkulu Kota Parkir?


Ini bukan keluhan sempit apalagi pemikiran sempit, dan ini juga bukan berarti bahwa aku tak peduli atas apa yang sudah menjadi kebijakan pemerintah. Ya bicara mengenai parkir dan biaya parkir seakan menjadi sebuah inpirasi baru bagiku dalam mengeluarkan uneg-uneg dan ganjalan yang selama ini aku rasakan di kota ini.


Bagi pemerintah daerah biaya pungutan parkir merupakan sumber PAD yang cukup lumayan dan memang perlu guna membiayai pembangunan daerah yang bersangkutan, Hal ini lumrah menurutku dan wajar di kota manapun juga begitu. Namun yang jadi persoalan adalah jika biaya parkir ini diajadikan komodity oleh sebagian pihak tertentu dalam mencari keuntungan pribadi atau sebagai sarana baru mencari pendapatan dengan mudah yakni hanya dengan modal pluit atau tanda pengenal yang entah resmi atau buatan sendiri, karena aku sendiri pernah melihat seorang tukang parkir dengan lagaknya dan dengan tanda pengenal di kalungkan di lehernya dia memaksa agar membayar pungutan parkir pada setiap kendaraan yang meskipun hanya sekedar parkir sesaat untuk duduk-duduk di pingir jalan, rupanya setelah kudekati dan kulihat lebih dekat tanda pengenal itu bertuliskan "PANITIA LOMBA JALAN SANTAI BLA BLA BLA BLA" lengkap dengan cap dan tanda tangan panita dan seketika itu juga dia membalikkan tulisan itu agar menghadap ke arah bajunya sehingga tak bisa di baca orang. ya ironis memang, jadi apa tujuannya, mungkin dia ingin merubah image bahwa dia sekaan-akan tukang parkir asli dan legal (mungkin)........?

Kenapa aku bicara hal ini? ya karena aku merasa di Kota Bengkulu ini hampir di setiap sudut jalan dan depan pertokoan bahkan di tempat bersantai saja selalu ada saja yang menarik pungutan parkir, persoalannya bukan pada biaya parkirnya saja tapi pada pemungut parkirnya itu sendiri yang menjadi persoalan. Ternyata alangkah mudahnya seseorang untuk menarik pungutan parkir tanpa identitas jelas apakah orang itu menarik pungutan parkir resmi atau fiktif, dan atau apakah uang yang didapat itu masuk ke kas pemda atau kantong pribadi. Hal inilah yang menjadi perhatian aku selaku warga kota Bengkulu yang sedikit banyak harus memarkirkan kendaraan di tempat umum.

Pernah suatu sore di tahun 2006 aku pergi ke tempat wisata tapak paderi untuk bersantai dan menunggu sun set menjelang. Aku duduk sendiri di dekat tugu tabot yang memang bisa dibilang cukup jauh dari tepi pantai dan arena wisata tetapi tiba-tiba seorang anak muda dengan tampang agak sedikit preman dengan bermodal pluit meminta agar aku membayar biaya parkir dengan tiba-tiba, aku berkeras "kenapa kamu minta duit parkir sementara aku saja belum beranjak dari tempat ini". Jawabannya cukup menggelikan dia bilang dia harus buru-buru pulang karena belum mandi. Aneh memang, namun aku tak mau berdebat dan ambil pusing maka aku serahkan sebuah uang receh lima ratus rupiah, namun tiba-tiba dia menolak karena katanya untuk kendaraan roda dua harus bayar 100 rupah, aku berfikir "lho bukannya kendaraan roda dua itu menurut PERDA biaya parkir hanya 500 rupiah saja?" Tapi dia tak peduli dan dengan sedikit memaksa diapun meminta agar aku memberinya 1000 rupiah. Meskipun hatiku agak sedikit tak rela tapi apa boleh buat daripada ribut (karena pada intinya aku peace lover, bukan tak berani ribut tapi sebisa mungkin aku menghindari keributan) aku kasih saja lalu dengan santainya diapun menuju ke sebuah warung dan membeli rokok lalu pergi entah ke mana.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukan hanya sekali dan sering terjadi di tempat lainnya dan dengan berbagai macam alasan mereka meminta uang parkir sesuka hati mereka tanpa memandang apakah tempat tersebut layak untuk dipungut bayaran parkir atau tidak.

Selain menjamurnya tukang parkir di hampir setiap sudut kota, yang tak kalah serunya adalah para tukang parkir itu kadang meminta parkir sekehendak perutnya saja misalnya ketika pada acara festival tabot, para tukang parkir itu meminta uang parkir yang nominalnya amat jauh dari apa yang telah diperdakan, seperti Roda Dua Rp2000, Roda Empat Rp5000. Kemanakah uang itu larinya? apa ke kas Pemda apa ke Kas pribadi. Jawabannya ada pada anda pelakunya.Halo Pemda yang mengurusi Parkir, halo...halo...halo...


Diposting oleh ||SEV PASCAL™|| di 06:15 3 komentar
Label: Opini
Minggu, 2008 Februari 03
Numpang Tenar

Below are about myself:

1. I like some adventures and challenges, especially climbing to the mountain. I cannot live without it.

2. I am so interested to the Japanese Anima, especially Naruto, Inuyasha and The Legend of Aang in the Avatar Serial.

3. I have phobia of snake, it had ever bite my leg and I could not walk for one week afterwards.

4. I am often to be awake in the night, especially with a lot of friends among of me, a cup of milk coffee and a slice of bread. So nice !

5. Internet is my favourite. One day without internet ? Wow, I can't imagine how I am. In front of computer and internet make me forget of everything.

6. My favourite games are Empires and Diablo II. Anybody want to compete with me ?

7. Basketball is one of my sport favourite, my style. Anytime I have the time, I will do.

8. It's very difficult for me to stay far away from my beloved family (especially my mother). I love her so much. But I have to do it to have the better life, can stand alone, self supporting and be autonomous.


Diposting oleh Mr. Eagle di 07:26 0 komentar
Label: Mr. Eagle
Rabu, 2008 Januari 30
"Ketika Kaum perempuan Menulis"

Kaum hawa biasa mengeluarkan isi jiwanya kepada sahabat-sahabatnya. Ada sebagian kaum feminisme ini dalam menumpahkan perasahan ke diary sebagai tempat ternyaman dalam menuangkan isi hatinya, tanpa disadari ternyata banyak manfaat yang dipetik dari aktivitas tersebut selain aman, catatan harian dapat menjadi saksi sejarah bagi kehidupan di masa yang akan datang. Tanpa mereka sadari tuliasan-tulisan yang di gali dari perasaan tersebut dapat menjadi sebuah cerpen bahkan novel ataupun sebuah sejarah pribadi sampai dengan sejarah bangsa yang kelak di butuhkan bagi anak cucu kita.

Seperti R.A kartini lebih terkenal memperjuangkan kaum perempuan dibandingkan dengan Dewi Sartika, Laksamana Kemala Hayati, Cut Nyak Dien dan Cristina Martha Tiahahu? Alasannya sederhana saja: Kartini terbiasa menulis diary. Terlepas aspek politisnya, Kartini memiliki bukti-bukti otentik dalam bentuk teks-teks surat yang beliau kirim lewat surat kepada temannya di luar negeri seperti ke Nyonya JH. Abendanon. Surat-surat ini kemudian dibukukan dan dapat dibaca oleh generasi ke generasi selanjutnya. Gagasan Kartini, lewat apa yang ditulisnya menjadi inspirasi banyak perempuan, mungkin kalau Kartini masih hidup, beliau tidak akan percaya coretan tangan yang jujur tersebut menjadi karangan ilmiah yang berpengaruh sekali bagi bangsa dan kaum perempuan di Indonesia.

Sang penulis klasikal, Alm. Bunda Hj. Ani Idrus yang banyak menyumbangkan karya-karyanya lewat pena dari kelembutan jemarinya yang melahirkan buku-buku yang berjudul; "Wanita Dulu, Sekarang dan Esok" (1984), "Menunaikan Ibadah Haji" (1953), "Terbunuhnya Indira Ghandi" (1984), "Sekilas Pers dan Organisasi PWI di Sumatera Utara" (1985) dan "Doa Utama dalam Islam" (1987). Yang memberi sumbangan bagi kaum perempuan yang idealisme. Dalam bukunya "Wanita Dulu, Sekarang dan Esok" mengatakan bahwa sejarah kesatuan pergerakan tanah air dan bangsa pergerakan perempuan Indonesia itu timbulnya justru pada waktu "Sumpah Pemuda" (28 Oktober 1928) hingga sekarang. Begitulah isi salah satu buku beliau yang imajinatif dan penuh semangat pejuang yang tinggi untuk menjadi seorang perempuan Indonesia. Dalam bukunya itu beliau juga menyebutkan mengenai "Panca Dharma Wanita" yang memaparkan bagaimana untuk menjadi seorang wanita, yaitu:
1.Wanita sebagai istri,
2. Wanita sebagai ibu rumah tangga
3. Wanita sebagai penerus/keturunan
4. Wanita sebagai ibu pendidik anak-anaknya
5. Wanita sebagai warga masyarakat.

Kini, penulis muda dari kaum hawa ini laksana jamur di musim hujan ikut berkreasi dan menyemarakkan tumpukan-tumpukan etalase toko-toko buku. Satu sisi hal ini sangat menggembirakan. Lonjakan karya-karya berupa buku dari penulis perempuan mencitrakan peningkatan melek huruf dan intelektualisasi. Sisi lain ada dari penulis-penulis perempuan itu membawa misi-misi tersendiri. Mereka menulis sebagai simbol pemberontakan tehadap ketidakadilan yang melingkupi dunia perempuan dalam perspektif kesetaraan peran dalam kehidupan.

Selain, banyak bentuk dan ragamnya namun mudah dikonsumsi publik, akhir-akhir ini dunia sastra mendapat respon baik dari khalayak. Karya-karya mereka berusaha menyaingi karya kaum laki-laki yang begitu berani tampil dengan mengeksplorasi vulgar dan seksualitas. Seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki dll. Buku Supernova karya Dewi Lestari. Buku ini mengisahkan Diva, pelacur kelas kakap yang berkarakter mandiri, berwawasan luas, kritis, cerdas dan mempunyai pilihan hidup, tentu saja di dalamnya dibumbui "adegan bapak ibu," perselingkuhan dan sebagainya, hal ini menepis ketidakberdayaan tokoh perempuan yang banyak digambarkan sastra lama. Seakan-akan menunjukkan hargai pilihan hidup orang dan pekerjaan seorang pelacur adalah perkerjaan yang sangat terhormat.

Tak hanya sastra, tulisan pop (populer) misalnya komik, Teenlit dan Chicklit juga membanjiri dunia buku. Gaya tulisan ringan dan enak membuat bacaan ini digandrungi remaja. Pasalnya, isi buku pop itu tadak jauh-jauh dari propaganda kehidupan "gaul" bebas nilai. Buku-buku seperti ini sebenarnya cukup membahayakan stabilitas psikologis dan jati diri generasi muda.

Misalnya, novel-novel Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja dan lainnya. Konon tulisan-tulisan mereka banyak mengantarkan perempuan kepada hakekatnya kehidupan seorang perempuan. Penulis sekaligus pejuang Zainab Al-Ghazali juga rajin menggoreskan perjalanan hidupnya selama enam tahun di penjara lewat tinta semasa Pemerintahan Mesir Gamal Abdul Naser. Kisah dukanya yang menggugah hati siapapun yang membacanya. Kisah lara ini bisa dijumpai dalam bukunya yang berjudul: "Peran dan Tugas Wanita Muslimah atau Hari-hari dalam hidupku."

Zainab al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman, tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam. Dia lahir di wilayah Al-Bihira, Mesir pada 1917 dan merupakan keturunan dari kalifah kedua Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Ketika masih berusia sangat muda, 10 tahun, Zainab Al-Ghazali telah memperlihatkan kepandaian dan kelancarannya dalam berbicara di depan umum. Dan sepanjang hidupnya, dia lantas membentuk dirinya sebagai orang yang berhasil belajar secara otodidak. Ambisinya yang kuat dan tekadnya yang membara, membuatnya maju untuk mencapai jenjang pendidikan tinggi, pada saat kaum wanita pada saat itu jarang yang mengenyam pendidikan karena dianggap tabu.

Al-Ghazali banyak dipengaruhi oleh pendiri Ihkwanul Muslimin, Syekh Hasan al-Banna. Ia memegang teguh pandangannya bahwa tidak ada konflik antara agama dan politik. Al-Ghazali adalah orang yang lantang mempertahankan syariah dan kerap menghadapi masalah dengan rezim Mesir pada saat itu, Presiden Gamal Abdul Naser. Dia mengalami hidup yang penuh siksaan dalam tahanan rezim itu. Penjara dan siksaan, tidak pernah mematahkan tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Zainab Al-Ghazali meninggalkan warisan berupa perjuangan membela Islam dan reputasinya sebagai aktivis perempuan yang tanpa ragu melawan sekularisme dan liberalisme dan menggantikannya dengan nilai-nilai Islam.

Seorang penulis kelahiran tahun 1940 di Fez, Marokko perempuan yang terkenal, Dosen tetap dan guru besar Sosiologi di Universitas Mohammed V Rabat-Marokko dan Gelar Ph.D didapatkan di Universitas Brandels, Amerika Serikat tahun 1973, Fatima Mernissi, yang telah sekian lama merebut perhatian para aktivis perempuan dan peminat gender melalui buku-bukunya seperti Beyond the Veil: Male-Female Dynamic in Modern Moslem Society- yang aslinya adalah disertasi doktornya. Dari tulisan-tulisannya, sedikit atau banyak kita dapat menarik benang merah untaian pemikiran Mernisi sekitar feminisme: Yakni betapa gigihnya dia menelisik kekurangan-kekurangan yang ada pada pemerintahan Arab -yang menurutnya- bukanlah intrinsik karena doktrin agama. Namun, lebih karena agama itu telah dimanipulasi oleh orang yang berkuasa untuk kepentingan dirinya sendiri. Mernissi rela "mewakafkan" sebagian besar usianya untuk melakukan penggalian arkeologis dengan membuka-buka teks agama dan mengakrabi ruang-ruang perpustakaan. Dengan maksud, tentu saja, untuk membuktikan hipotesis dia tentang intervensi budaya patriarkhat dalam teks-teks sakral yang bersifat misoginis.

Misalnya kita lihat dalam karyanya "The Veil and Male Elite," (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, "Menengok kontroversi Keterlibatan Wanita Dalam Politik," (Surabaya: Dunia Ilmu, 1997) yang kemudian ia revisi menjadi "Women and Islam: "A Historical and Theological Enquiry," (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: "Wanita dalam Islam," Bandung: Pustaka, 1994) dan seabrek buku lainnya. Ia pernah mengatakan, dengan menulis setiap hari kulit kita akan bercahaya dan kencang! Karena bisa jadi segala yang terpendam dalam benaknya terlampiaskan lewat tulisan sehingga bisa menjadi kita lebih fresh dan bergairah dalam hidup.

Bukan kelahiran, kehidupan, kematian dan kecantikan yang membuat kaum hawa dimuliakan serta dicintai oleh kaumnya namun akhlak yang baik, keringat, air mata, kesabaran, kelembutan hati yang diperjuangankan dengan konsisten yang dapat memuliakan kaum hawa. Oleh sebab itu mulailah dari hal-hal yang kecil karena suatu saat akan menjadi sesuatu hal yang besar, jangan ragu-ragu untuk menulis apapun itu sejak dini. Ingat pesan penulis yang ternama Harry Potter J.K Rowling, "Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kuketahui tulislah tentang pengalaman dan perasaanku sendiri."

Diposting oleh xraith bungzhu di 22:19 2 komentar
Senin, 2008 Januari 28
Kesan Festival Tabot Bengkulu Tahun 2008



Beberapa hari yang lewat di Bengkulu baru saja diadakan festival tabot yang merupakan festival rutin yang diadakan di Bengkulu tiap tahunnya yakni tepat pada tanggal 1 hingga tanggal 10 Muharram bertepatan dengan tahun baru Islam. Perayaan ini sendiri dimaksudkan untuk mengenang kembali wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW (Hasan dan Husien) dalam membela dan menegakkan Islam di Karabella Irak pada bulan Muharram 61 H. Festival Tabot ini sebenarnya ada juga ada di daerah Pariaman Sumatera Barat yang di sana sebut Tabuik tapi hanya mempunyai sedikit kesamaan karena dalam hal tertentu banyak memiliki perbedaan.

Dari tahun ke tahun festival ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan baik dari jumlah pengunjung yang datang dari berbagai penjuru baik lokal maupun dari provinsi tetangga serta peningkatan dari segi kemeriahan yang semakin memikat masyarakat untuk berkunjung meskipun rela berdesak-desakan di tengah lautan manusia. Festival ini sudah sekian lama dipusatkan di Lapangan merdeka kota Bengkulu tapi entah kenapa untuk tahun ini festival ini oleh Pemda dipindahkan di lokasi lain yang sama sekali menurutku tak cocok, aku sendiri merasakan ada sedikit kekecewaan karena festival ini diadakan di tempat yang berbeda dari biasanya yakni dipindahkan ke tepi pantai kawasan Tapak Paderi di samping benteng Fort Marlborough yang merupakan sebuah benteng buatan Inggris, ketika Bengkulu dijajah Inggris. Aku kecewa karena dengan dipindahkannya lokasi tabot ke tepi pantai maka kondisi arena festival cukup sempit, kurang teratur dan semrawut selain itu sedikit banyak sudah barang tentu berpengaruh pada jumlah pengunjung yang datang, karena di Bengkulu ini kata Tsunami sudah menjadi buah bibir dan momok yang menakutkan bagi penduduk yang tinggal atau berada di tepi pantai sehingga setiap ada kejadian gempa maka mayoritas penduduk yang berada di tepian pantai akan berlarian atau mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, kondisi ini diperparah dengan munculnya berbagai macam isyu menyesatkan yang menyatakan Bengkulu akan terkena Tsunami dahsyat yang ternyata alhamdulillah hingga kini isyu itu tak tebukti dan memang aku berharap dan berdoa jangan sampai terbukti.

Kembali ke masalah tabot, rupanya selidik punya selidik kenapa pemerintah memindahkan lokasi festival dari lapangan merdeka ternyata hal ini disebabkan pemerintah sedang menggali terowongan bawah tanah yang melintas dari benteng hingga ke gedung daerah yang katanya akan manjadi sebuah aset pariwisata baru meskipun hingga saat ini pengalian terowongan tersebut baru berjalan setengah jalan. Mudah-mudahan setelah selesainya penggalian terowongan (yang konon terowongan tersebut merupakan buatan penjajah Inggris beberapa abad silam ketika masih menjajah Bengkulu sebelum Bengkulu di tukar dengan Tumasik atau Singapura sekarang ini kepada Belanda) selesai maka akan menambah lagi perbendaharaan aset wisata di Kota bengkulu khususnya dan Provinsi Bengkulu pada umumnya.

Diposting oleh ||SEV PASCAL™|| di 21:20 2 komentar
Label: Bengkulu
Minggu, 2008 Januari 27
Pesta Penyambutan Piala Copa


Piala Copa 234 yang dimenangkan Sriwijaya FC beberapa waktu lalu, kemarin 27 Januari 2008 datang dan diarak mengelilingi kota Palembang dan puncaknya pesta kemenangan itu dilaksanakan di parkir Stadion Bumi Sriwijaya dengan dimeriahkan oleh Trio Macan, Pretty dan lain-lain.



Diposting oleh Nayel di 18:36 1 komentar
Label: Sumatera Selatan
Posting Lama Berlangganan: Posting (Atom)